Ulasanku untuk Manga The Cute British Girl Next Door and Her Sister 01

Baru kali ini aku membeli dan membaca manga fisik, dan manga yang masuk dalam wishlist-ku kali ini adalah manga Otonari Asobi ini.

Aku membeli manga ini karena satu alasan: Aku belum pernah mengetahui ceritanya.

Kebanyakan bacaanku itu adalah sesuatu yang sudah kuketahui sebelumnya, seperti: Roshidere, Ototen, dan Kuranika, semua sudah kuketahui alurnya dari anime, jadi ini adalah satu karya orisinal yang kuketahui lebih dahulu dari media cetak.

Bahkan saking ngebetnya, aku membeli manga ini sesaat setelah ada di katalog meski jadwal terbitnya masih 2 hari kemudian1, meski datangnya juga setelah jadwal terbit, sih, wkwkkw.2

Inilah pengalamanku menikmati manga ini.

Cetakan

Aku mendapatkan paket manga ini dengan perasaan yang cukup terheran-heran, paketnya tampak lebih kecil dan tipis daripada novel, dan benar saja setelah kubandingkan dengan cetakan buku novel, ukurannya memang lebih kecil dan jauh lebih tipis.

Ini juga menjawab rasa penasaran yang terkadang membuatku bertanya: “Kenapa manga bisa lebih murah daripada novel? Padahal secara manga digambar, seharusnya lebih sulit/mahal daripada novel yang hanya ditulis.”

Dengan ini bisa dipastikan memang manga jatuhnya lebih mahal daripada novel, secara dengan menambah 2x harga manga, aku bisa mendapatkan satu jilid novel yang memuat konten lebih banyak.

Cetakannya juga unik mengikuti cara baca manga Jepang sungguhan, yaitu dari kanan ke kiri–yah kalau bagian ini jelas tidak bisa diubah, kan, yah–dan dijilid softcover dengan art yang langsung dicetak di bukunya–bagian ini aku tak tahu apakah buku manga punya sampul ganda seperti novel atau tidak.

Yang tak kusuka dari cetakannya adalah dari isi manga saat menampilkan dua halaman menjadi satu lembar besar. Bagian sambungannya cukup terpotong banyak.

Namun, kalau aku menjadi penyusun manga ini pasti aku juga bingung, sih. Gak mungkin, kan, aku kecilin ukuran halamannya atau yang terparah menggepengkannya biar tidak terpotong. Yah, kalau soal ini memang tak bisa dihindari, sih.

Terjemahan

Nah, ini dia bagian favoritku yang bisa cukup aku kritik, hehe.

Terjemahan Tidak Konsisten

Yang langsung ketahuan pertama adalah terjemahannya tidak konsisten, di bagian sampul bagian belakang, ada potongan isi konten manganya, di sana ada satu bagian isi manga yang diterjemahkan “BERHENTI BERFIKIR”, sementara saat menemui adegan yang sama di dalam manganya, bagian itu diterjemahkan “MATI OTAK”. Kenapa bisa begitu, ya? Apakah mungkin karena penerjemah bagian sampul dan isi berbeda? Mana typesetting di bagian sampulnya tampak jauh lebih niat daripada di dalam manganya, wkwkwk.

Tanda Baca

Karena ini adalah pertama kali aku membaca manga bahasa Indonesia yang resmi, rasanya aneh tiap dialog tidak diakhiri dengan titik. Atau manga memang begitu? Wkwkw

Sekali lagi, karena ini baru pertama kali aku membaca manga fisik, rasanya mengganjal saja melihat semua balon dialog tidak diakhiri titik. Penggunaan elipsisnya juga tidak sesuai dengan aturan EYD, seperti elipsis yang tidak dispasi dan tidak ada tambahan titik di akhir kalimat. Namun, aku memang sering melihat penggunaaan tanda baca yang seperti itu, terutama di layanan streaming, kebanyakan takarirnya menggunakan tanda elipsis yang digabung dengan kalimatnya.

Meski begitu manga ini ada editornya, jadi seharusnya sudah sesuai dengan standar mereka.

Typesetting

Typesetting-nya cukup ala kadarnya, ada onomatope yang dihapus total dan ada yang disisakan, sepertinya yang dihapus total adalah onomatope yang mudah dihapus, sementara yang susah dihapus dibiarkan begitu saja dengan terjemahan di sampingnya. Penanda dalam manga tidak di typesetting, tapi diberi keterangan di luar panel, aku juga menemui satu halaman yang menampilkan terjemahan bahasa Inggris dari teks Jepang di sampingnya, yang kemudian ada terjemahan bahasa Indonesianya.

Alur Cerita

Trope yang cukup pasaran, yah, wkwkwk. Tetangga dan gadis luar negeri, sudah kelihatan refrensinya dari mana, kan. Setidaknya ceritanya cukup enak diikuti, komedinya seru khas manga shounen, tidak berat dan mampu membuatku senyum-senyum sendiri wkwk.

Namun, di sini si MC daripada menjadi “Gweh banget”, pendiam, dan sebagainya, dia malah jadi semacam public enemy wkkwkw. Dan ini jenis manga romansa yang slow burn, menjadikan adik heroine sebagai perantara hubungan antara keduanya juga sangat menarik karena sepertinya di dunia nyata hal seperti ini juga terjadi, kan, ya?


Itu saja yang bisa kutulis di sini, terlepas dari keluhanku, aku cuma berharap manga ini bisa terus terbit hingga tamat, atau kalau bisa versi novelnya dibawa ke sini juga, dong, wkwkw.


Rokhiq · · ACG, The Cute British Girl Next Door and Her Sister, dan Ulasan
Tulisan ini dilisensikan di bawah CC BY-NC-SA 4.0