Ulasanku untuk Serial The Angel Next Door Spoils Me Rotten2
Akhirnya setelah penantian 3 tahunan dari musim pertamanya, anime ini lanjut pada musim kedua! Sebelum musim kedua tayang, aku pun menyempatkan diri untuk menonton ulang musim pertamanya dan bahkan membeli novel ringan fisiknya untuk mendapat cerita yang lebih mendalam karena saking tertariknya aku ingin mengikuti serial ini.
Namun, kok di musim kedua ini semuanya jadi berbeda, ya? Tak jarang aku menemukan komentar jelek tentang serial ini mulai dari ceritanya yang tidak realistis, berlebihan, hingga ada yang bilang cerita mimpi basah.
Aku tak mengacuhkan komentar-komentar itu karena menurutku sendiri ceritanya oke-oke saja meski ada satu sisi dalam diriku yang mengatakan ceritanya memang tidak realistis, tapi, hei, ini hanya cerita fiksi, jadi janganlah dicampuradukkan dengan dunia nyata.
Maaf, meski begitu, di musim kedua ini aku mulai sedikit relevan dengan komentar-komentar itu.
1. Masalah Alur Pasca Pacaran
Gambar dari https://crunchyroll.com - ©佐伯さん・SBクリエイティブ/アニメ「お隣の天使様」製作委員会
Mungkin ini adalah masalah terbesar dalam serial ini. Sebelum Amane dan Mahiru resmi berpacaran, ceritanya menurutku sungguh-sungguh menarik dan manis, tapi setelah mereka berpacaran di musim keduanya, sepertinya pengarang kebingungan ingin membawa cerita ke mana lagi semenjak inti dari serial ini sudah tercapai.
Dari episode 1 & 2 aku sebenarnya cukup excited dan enjoy dengan serial ini karena hubungan mereka masih menarik untuk diikuti, kehangatan dan manisnya hubungan mereka masih terasa sampai di sini, tapi semua itu berubah ketika memasuki episode 3 & seterusnya.
2. Kebanyakan Fan Service
Gambar dari https://crunchyroll.com - ©佐伯さん・SBクリエイティブ/アニメ「お隣の天使様」製作委員会
Salah satu hal aku melirik serial ini karena tidak memiliki fan service dalam ceritanya, karena kalau melihat dari musim satu sepertinya aman semua, tak ada satu adegan pun yang mengarah ke sana, tapi ternyata aku terlalu naif untuk berpikiran begitu.
Episode 3 musim kedua ini memiliki adegan di kolam renang yang tentu saja mengenakan baju renang, yah, mungkin hal ini sudah biasa atau tradisi anime romansa, tapi bak kurang, jam tayang fan service muncul lagi di episode 8, bahkan lebih parah dari sebelumnya karena kali ini adalah adegan mandi bersama …. Selain itu beberapa adegan dibuat cukup sugestif.
Aku sangat menyayangkan serialnya jadi seperti ini, padahal judulnya saja membingkai “malaikat”. Terbukti, sih, gelar malaikatnya di musim pertama, tapi di musim kedua ini sama sekali tak bukan malaikat. Memang kalau tak salah serial ini ada semacam spin-off yang menggambarkan kalau Mahiru adalah succubus alih-alih malaikat, tapi tolonglah masa serial utamanya jadi begini, sih?
3. Cerita yang Menjadi Membosankan
Aku sempat berpikir ceritanya jadi gak asyik karena tak relevan denganku—dari awal sudah gak relevan, sih wkwwk, tapi ternyata gak aku sendiri yang merasa seperti itu.
Seperti poin ke satu tadi, masalah serial ini adalah alurnya tak jelas mau dibawa ke mana lagi setelah mereka berpacaran, yang terjadi di sini malah memperbanyak fan service yang semestinya tak dibutuhkan dan terasa seperti “memeras” Mahiru yang berujung membuat alur cerita jadi kurang menarik lagi.
Jadi kesimpulannya, musim ini rasanya seperti menekankan adegan dan dialog sugestif alih-alih adegan manis.
Padahal aku tak mengharapkan hal seperti ini terjadi, yang aku harapkan adalah adegan yang membuatku senyum-senyum gak jelas melihat kemesraan mereka, tapi di musim ini malah beranjak ke arah yang salah.
Mungkin akan lebih masuk akal mereka menambahkan genre ecchi pada animenya, karena memang itu yang ditonjolkan pada musim ini.