Menggunakan Pemblokir Iklan Itu Etis, Tidak, sih?
Pengantar
Konon, internet zaman sekarang itu tak bisa dipakai bila tidak menggunakan pemblokir iklan, dan sepertinya itu benar.
Bahkan ke sudut internet mana pun, pasti akan ada iklan yang menanti, kalau situsnya cukup mencurigakan, iklan itu akan berperilaku aneh, seperti mengakali klik pengguna dengan membuat area kliknya satu layar penuh, mengarahkan pengguna ke situs lain, dan yang paling parah adalah menyuruh pengguna memasang malwer.
⚠️ 🚨
— fabiano.sol (@FabianoSolana) 16 September 2026
If you see this, you’re ONE click away from losing everything
Over $1M has been stolen through random sites on Arc
A fake Cloudflare verification tricks you into downloading a malware that steals passwords, private keys and more pic.twitter.com/0fhUeo2kfE
Aku sendiri juga menggunakan pemblokir iklan dalam keseharianku, bahkan faktanya langkah pertama sesaat setelah memasang peramban adalah memasang ekstensi itu karena memang menjelajah internet ‘telanjang’ itu cukup mengganggu dan berbahaya—seperti yang disebutkan tadi.
Namun, memblokir iklan itu sebenarnya etis tidak, sih? Di balik iklan yang mengganggu itu, pasti ada orang yang mengharapkan penghasilan dari iklan tersebut.
Bukankah kalau kita memblokir iklan sama saja dengan memutus penghasilan seseorang?
Keamanan dan Kenyamanan
Aku dan orang lain yang memasang pemblokir iklan hanya menginginkan dua hal tersebut: keamanan dan kenyamanan.
Iklan adalah elemen yang dibuat dari peladen luar yang biasanya dianggap memperberat muatan situs1, tapi faktanya aku hampir tak merasakan perbedaan signifikan pada situs yang sama yang memuat iklan dan yang iklannya dihapus.
Dan biasanya iklan dalam situs itu tak cuma satu, tapi tersebar ke semua bagian situs, yang membuat kesan situsnya yang awalnya seperti premium menjadi situs biasa-biasa saja hanya karena menampilkan iklan.
Iklan dalam situs sendiri biasanya mengandung skrip pelacak2, yang berguna untuk melacak perilaku apa yang dilakukan pengguna bila menjumpai iklan tersebut, akankah diabaikan, diklik, atau diblokir—mereka semua tahu gerak-gerikmu yang membuat privasi sebagai pengunjung situs sedikit dipertanyakan.
Karena itu, memblokir iklan sangat disarankan di internet zaman sekarang, tapi di sisi lain, sepertinya itu juga yang membuat iklan jadi seperti ini ….
Iklan Makin Agresif
Ini bagaikan lingkaran setan, kita coba saja berkaca pada situs YouTube, mereka awalnya menyajikan iklan yang bisa dibilang lebih sedikit—daripada yang sekarang, menjadi semakin banyak, dan itu semua terjadi karena penggunanya semakin banyak menggunakan pemblokir iklan.
Model bisnis YouTube selain langganan YouTube Premium, mereka hanya mengandalkan iklan untuk terus bernapas, memang perusahaan di baliknya (Google) sudah sangat kaya, tapi yang menjadi sasaran dari hal ini adalah pembuat konten di media YouTube tersebut.
YouTube juga tak tinggal diam dalam posisi tersebut dan melawan dengan mendeteksi pemblokir iklan dan menampilkan dialog bahwa pemblokir iklan tidak diizinkan, bahkan pernah ada rumor bahwa YouTube nantinya akan memasang iklan pada sisi peladen, sehingga iklan menempel langsung pada video YouTube, bukan lagi lapisan di atas video, yang membuat pemblokir iklan secanggih apa pun tidak bisa berbuat apa-apa3.
Jadi salah satu penyebab iklan di internet zaman sekarang seperti tak terkendali adalah para pengguna pemblokir iklan itu sendiri.
Lantas, Apa yang Harus Dilakukan?
Kurasa tak ada yang salah maupun benar di sini, pemblokir iklan sendiri itu sah secara hukum, bila tidak peramban seperti Brave sudah tidak eksis lagi sekarang.
Sepertinya yang perlu diperhatikan adalah kesadaran masing-masing individu—situs mana yang layak, dan kapan pemblokir iklan sebaiknya kau matikan.
Kita boleh memblokir iklan di penjuru internet, tapi ada kalanya kita perlu mematikannya demi mendukung orang di balik iklan tersebut karena telah menyajikan sesuatu yang mungkin tidak mereka bangun secara cuma-cuma seperti saat kita mendapatkannya.
Catatan Kaki
Web Almanac (HTTP Archive), 2025 — Page Weight: skrip iklan dan analitik menambah beban halaman. ^
Web Almanac (HTTP Archive), 2024 — Third Parties: 92% halaman memuat sumber pihak ketiga, dan yang paling banyak dipanggil adalah skrip. ^
BleepingComputer, 13 Juni 2024 — YouTube tests harder-to-block server-side ad injection in videos; Mashable, 14 Juni 2024 — YouTube is making it even harder to block ads. ^