Pengantar

Karena sebelumnya sudah sedikit dikecewakan dengan perkembangan cerita anime The Angel Next Door Spoils Me Rotten2 karena ceritanya mengarah ke hal yang tak kusangka1, aku jadi sedikit excited dengan anime ini saat pertama kali diumumkan. Bedanya, si heroine di anime ini seperti kebalikannya Mahiru–klemar-klemer dan cukup pemalas.

Saat menonton trailernya pun juga asyik, si heroine punya dua sifat, yaitu sifat anggun bak tuan putri dan kebalikannya yang hanya diketahui oleh pengasuhnya, dan itu memberi kesan hubungan istimewa antara si heroine dan karakter utama.

Namun setelah disimak hingga tamat, ternyata anime ini tak sesuai dengan ekspektasiku.

Plot

Sisi Jeleknya

Cinta Segiempat

Hal yang paling tak kusuka dari anime ini adalah ada 3 heroine yang memperebutkan karakter utama–perlu diketahui, aku memang dari awal bukan tipe orang yang suka genre harem seperti ini.

Aku dari awal dikenalkan oleh satu heroine, mereka mulai akrab dan banyak perkembangan, lalu setelah itu si karakter utama malah berpaling ke heroine lain, entah itu teman masa kecilnya, teman satu kelasnya, dan lainnya yang sama-sama seperti punya perasaan dengan karakter utama.

Terus ternyata si karakter utama lebih cocok dengan heroine lain–entah itu sama-sama sejalan atau mendapat dukungan orang tua–daripada heroine utama, rasanya penonton seperti dipermainkan.

Mungkin akunya saja, kali, ya, yang terlalu kaku, tapi memang rasanya aneh kalau heroine yang ada dari awal mendadak menjadi tokoh sampingan karena seiring berjalan cerita, heroine utama semakin jarang muncul sebab screentime-nya dihabiskan untuk heroine lain tersebut.

Dan pola itu berulang, setelah banyak perkembangan dengan heroine lain, muncul heroine baru lagi yang mengambil jatah screentime dan membuat heroine lain itu menjadi tokoh sampingan seperti heroine utama.

Kalau semua heroine mendapat screentime yang sama di setiap episode menurutku masih oke, lah.

Namun, kalau terlalu kasar membagi-baginya, menurutku itu cukup tidak adil bagi salah satu pendukung heroine.

Tak berhenti di situ, karena ini adalah anime bergenre harem, pada akhirnya si karakter utama akan memilih salah satu dari mereka, dan entah sedekat apa pun dengan heroine lain, kurasa pemenangnya sudah jelas dari awal.

Itu, sih, yang tak kusuka dari cinta segiempat seperti ini.

Perpindahan Arc yang Kurang Mulus

Berhubung ada lebih dari satu heroine di anime ini, maka adaptasinya dibuat sistem arc agar setiap heroine punya screentime untuk menjadi yang utama.

Namun, yang tidak kusuka dari anime ini adalah perpindahan arc-nya seperti dipaksakan.

Seperti yang kubilang di atas, rasanya saat si karakter utama baru mulai akrab, malah berganti arc ke heroine yang lain.

Jadi tiap karakter punya perasaan yang seperti digantung.

Atau memang ceritanya didesain seperti itu?

Kasta yang Berbeda

Ini adalah bagian yang tak kusuka, yaitu perbedaan kasta antara karakter utama dan heroine.

Semua heroine di anime ini adalah dari orang terpandang, sementara si karakter utama merupakan masyarakat biasa.

Alur cerita seperti ini sebenarnya cukup membuatku skeptis, sih.

Rasanya seperti tidak mungkin heroine dan karakter utama menjalin cinta karena perbedaan kasta, tapi di sisi lain aku merasa pasti karakter utama akan melakukan sesuatu entah bagaimana caranya.

Jadi kalau dipikir-pikir, mustahil, tapi pasti ada kemungkinan.

Ya, gitu lah, kira-kira rasa campur-aduknya.

Fan Service yang Berlebihan

Yah, anime seperti ini memang sudah menjadi tradisi untuk meletakkan fan service.

Cuma menurutku terlalu banyak dan seperti memang terang-terangan menggaet penontonnya.

Biasanya fan service hanya diletakkan di satu atau dua episode khusus, tapi di anime ini fan service diletakkan di bagian penutup.

Jadi di sepanjang anime, di setiap episode, ada fan service-nya.

Sisi Bagusnya

Tidak Kebanyakan Drama

Di salah satu episode, saat si karakter utama ditendang dan diberhentikan sebagai pengasuh, dia tetap berusaha kembali untuk tidak membuat heroine menjadi terkucilkan–karena karakter utama sudah pernah mengalami hal serupa, dan pada akhirnya dia berhasil kembali ke kediaman heroine sebagai pengasuh.

Aku suka pada bagian ini, dramanya tidak kepanjangan dan berakhir dalam satu episode.

Di episode yang lain kurang lebih punya pola yang sama dengan tidak membuat drama berlarut-larut.

Bersosialisasi Seberpengaruh Itu

Meski ini cerita fiksi, menjalin relasi juga berpengaruh besar di kehidupan sehari-hari.

Mungkin kalau si karakter utama tidak menjadi pengasuh, dia takkan pernah bertemu teman baru, teman masa kecilnya, dan orang yang mungkin akan dia cintai.

Setidaknya ini cukup menginspirasiku untuk lebih cakap melakukan sosialisasi dan memperluas hubungan.

Kualitas

Takarir

Aku tak bisa komentar banyak tentang ini karena aku tak menontonnya menggunakan bahasa Indonesia sebab Crunchyroll tidak melisensikan anime ini di Asia Tenggara.

Namun, kalau dari bahasa Inggris, takarirnya cukup membuatku bolak-balik membuka aplikasi penerjemah.

Karena anime ini bertema seperti keluarga bangsawan, tentu bahasa yang digunakan di anime ini adalah bahasa formal, dan takarir bahasa Inggrisnya menjadi formal juga.

Banyak kosakata asing yang kutemui di sana, tapi tidak sampai merusak pengalamanku menonton sih, meski bolak-balik ke penerjemah.

Grafis

Bagian ini pula tidak banyak yang bisa kukomentari karena tidak ada yang istimewa di bagian ini, tidak jelek dan tidak terlalu bagus juga, jadi standar.

Lagu Pembuka dan Penutup

Lagu Pembuka

Lagu pembukanya asyik banget, catchy didengar, dan sesuai dengan tema animenya–tentang pengasuh.

Tempo lagunya berubah-ubah, ada bagian cepat, lalu ada bagian serius dengan aransemen seperti dalam tema kerajaan.

Aku saking penasarannya sampai cari alat musik apa yang biasanya ada di kerajaan itu, dan setelah kucari tahu ternyata nama alat musik itu harpsichord.

Bentuknya seperti piano tapi beda mekanismenya–lebih jelasnya bisa buka tautan Wikipedia di atas, dan suaranya memang khas tema kerajaan.

Underrated banget menurutku alat musik yang satu ini.

Lagu Penutup

Sayangnya, lagu penutupnya menurutku biasa dan kurang berkesan.

Aku sepertinya kurang cocok dengan lagu penutupnya karena terdengar seperti ramai dan liriknya cepat.

Akhir

Secara keseluruhan aku cukup suka dengan anime ini, meski yang bisa kuambil dari cerita ini hanya bagian semangat menjalin relasi, itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Sisanya mungkin hanya akan menjadi mimpi basah saja kali, ya? Wkwkwk

Sekian saja, sampai jumpa di esai berikutnya.


Catatan Kaki