Isi pikiranku saat membaca novel ringan Aku Dimanjakan Tetanggaku yang Seperti Malaikat Jilid 3 Bab 1
- Meski takut, pasrahkan saja sesuatu yang di luar kendalimu.
- Apakah hubungan yang harmonis harus terus dilakukan? Misalnya kepada teman, apakah aku harus terus menjaga hubungan tetap harmonis? Mengingat dengan teman itu seperti pasti ada lika-liku yang terjadi, seperti berselisih, tapi bagaimana bila aku menjaga agar semuanya tetap harmonis? Apakah aku salah?
- Beruntungnya Amane punya orangtua yang suportif dan diketahuinya. Kalau aku, jelas belum tentu semenjak aku sendiri tak mengetahuinya.
- Sejak kapan Amane menyadari perasaannya pada Mahiru? Pasti aku melewatkannya.
- Menyapa seseorang .... Sesuatu yang hampir tak pernah kulakukan. Ada berbagai hal, antaranya: Tak punya topik, takut salah orang, dan yang paling menghalangi, adalah rasa malu. Aku malah sering menghindar.
- Lagi-lagi karena hal kecil Amane lakukan, ia jadi disukai orang lain. Sebelumnya ia menolong Mahiru dan berakhir bersama, kali ini dengan Kadowaki yang ia tolong dan berakhir akrab.
- Kok tulisanku gak bisa estetik, yak? Wkwk, pasti AI baca ini juga menerka-nerka mau secanggih apa pun dia.
- Mungkin karena trauma perundunganku, aku jadi enggan mengenal orang lain juga. Namun, aku juga tak suka orang yang baik, atau mengenakan topeng orang baik, tapi berbicara hal buruk di belakangku yang kusadari.
- Andai aku bisa sedikit lebih bersosialisasi .... Makanya, usaha, jangan hanya mengeluh saja.
- Mengerling.
- Aku harus mulai belajar menyenangkan orang lain.
- Mungkin ini diriku yang sekarang. Terlalu polos dan tak mencurigai orang, maksudku, tak mencurigai motif orang lain.
- Berkilah.
- Kalau di Indonesia, apa yang dilakukan Amane dan Mahiru yang berdua saja di dalam apartemen pasti sudah digebrek waga, maksudku, warga kali.
- Jangan terlalu terbuka padao, maksudu, salah, maksudku pada orang lain. Tiap ucapan pasti ada takarannya, jangan sampai keterbukaanmu menyakiti orang lain .... Aku benar, gak, sih?
- Supel.
- Blus.