Dinamika Memiliki Nama yang Blibet

Namaku yang ditulis “Rokhid” di sebuah pengisi daya yang diperlukan untuk proses menyervis laptopku.
Menurutmu, memiliki nama yang langka itu menyenangkan, gak, sih?
Dari pengalamanku—selaku yang punya nama cukup blibet, aku punya dua pendapat tentang ini ….
Nama Pengguna Masih Tersedia
Aku mulai dari bagian yang menyenangkan dulu, nama yang unik berarti tak ada … atau setidaknya jarang orang yang punya nama yang sama, jadi nama pengguna di kebanyakan platform masih belum ada yang mengklaimnya dan membuatku memiliki nama pengguna yang konsisten tanpa tambahan angka dan simbol acak.
Meski begitu, seperti yang kubilang di atas, unik itu jarang, bukan tak ada yang menyamai sama sekali, sudah pasti ada kemungkinan orang yang namanya sama denganku. Seperti contoh, aku menemui namaku sendiri sudah diklaim di X, bahkan sebelum aku membuat akun di sana, yang berarti memang ada orang yang namanya sama denganku, cuma jarang saja.

Tapi setidaknya untuk platform lain kayak Facebook, Instagram, TikTok, dan sejenisnya, aku masih bisa mendapatkannya, sih, hehehe.
Susah Dieja dan Diucapkan
Di balik keunikannya, punya nama seperti ini punya sisi lain yang kurang menyenangkan.
Tentu saja, bagaimana bisa dianggap menyenangkan bila orang kesulitan mengucapkan atau bahkan kebingungan menulis namamu? Dan bagian terburuknya, orang lain menyederhanakan namamu.
Aku cukup sering mendapati lawan bicaraku bingung menulis namaku seperti apa saat aku menyebutkannya, sehingga lawan bicaraku hampir selalu memintaku untuk mengulangi penyebutan namaku. Yang ujung-ujungnya mereka menggunakan insting dari apa yang didengar, dan menulisnya dengan ejaan yang salah.
Kalau dipikir-pikir, sepertinya selama ini belum ada orang berhasil menulis namaku dengan benar yang hanya mengandalkan pendengaran mereka. Namun, aku memakluminya, sih, karena sepertinya hampir mustahil orang bisa menebak namaku yang punya huruf mati berdekatan—”kh”, huruf yang jarang digunakan dalam nama—”q”, serta bisa juga faktor dari diriku sendiri yang artikulasinya jelek.
Akhir Kata
Aku sendiri tak begitu mempermasalahkan mau dipanggil seperti apa, karena aku memang menyadari namaku cukup blibet, jadi orang mau memanggilku dengan ejaan versi mereka sendiri tidak begitu masalah selama masih di batas wajar.
Jadi, apakah menyenangkan? Menurutku iya, karena ada sensasi memiliki nama yang langka dan tidak pasaran. Meski minusnya namaku jadi susah untuk diucapkan, sih.
Andai saja punya nama langka dan mudah diucapkan, yah, mungkin akan lebih sempurna ….
Namun mau nama seperti apa pun, nama adalah pemberian orang tua yang menurutnya terbaik untuk kita.