Kebiasaan Kurang Baik dari Menonton Video Pendek

Semenjak kehadiran platform Tiktok, video pendek potret jadi nge-tren dan banyak digemari, banyak platform besar lain juga mengadaptasi format serupa, seperti: YouTube, Instagram, Facebook, dan bahkan platform yang diperuntukkan untuk berjualan, Shopee, juga mengadaptasinya. Tak mengherankan, karena menurutku sendiri video pendek seakan menghemat waktu, to-the-point, dan selalu up-to-date.

Nyatanya dari menonton video pendek bukannya hemat waktu, malah lupa waktu. Mungkin ada benarnya kalau lagi kepepet cari tutorial sesuatu yang butuh cepat dan tak bertele-tele, tapi skenario itu jarang terjadi, setidaknya buatku. Video pendek memang terlihat hemat waktu, tapi karena hemat waktu itu, otak menjadi merasa tak puas dan ingin melihat lebih banyak konten video pendek lagi, yang awalnya ingin menghemat waktu, ujungnya malah semakin membuang waktu.

Video pendek sesungguhnya ada baiknya karena mengurangi populasi video yang mencari watchtime tinggi dengan cara membuat video bertele-tele, dengan video pendek, pembuat konten seperti dipaksa untuk segera menuntaskan video mereka, meski memang terkadang ada yang membuat hook heboh, tapi masih fair-lah, keterlaluan kalau video sudah pendek masih komplain kepanjangan.

Biasanya hasil dari editan video pendek itu bagus-bagus, itu mungkin karena timeline pengedit videonya tidak panjang, jadi mereka bisa “all-in” seluruh kemampuan mereka di sana. Video pendek biasanya menyertakan takarir, animasi yang mulus, dan semacamnya, yang membuat pengalaman menonton menjadi makin asyik.

Di video pendek juga gampang menerima info terbaru, salah satu faktornya karena produksinya yang lebih singkat dari video panjang. Namun, karena kepraktisan itu, tak jarang malah muncul misinformasi karena terburu-buru mengejar tren tanpa adanya kroscek lebih lanjut, yang membuat video pendek terkadang—atau sering—diragukan kebenarannya. Dan bagian terparahnya, ada orang yang memuat ulang informasi yang kurang tepat tersebut yang membuat hal yang sebenarnya salah seakan normal karena jumlahnya banyak.

Kalau bagiku, daripada manfaatnya, aku lebih kerap merasakan kerugiannya. Algoritma canggih yang mengerti apa yang kusuka membuatku menggulir video pendek terus menerus hingga tanpa sadar sudah satu jam berlalu hanya untuk menonton video yang pada awalnya tak kucari/kubutuhkan, yang membuatku menyesal telah menyiakan waktu. Aku pernah dengar video pendek itu menurunkan attention span dan mengeluarkan begitu banyak dopamin, aku kurang mengerti detailnya, tapi yang jelas attention span yang menurun bisa membuat diriku jadi kurang suka berlama-lama memperhatikan sesuatu, bawaannya seperti ingin segera beranjak ke hal yang lain, dan pengeluaran dopamin yang banyak membuat otak menjadi membentuk standar dopamin yang tinggi yang membuat hal-hal kecil yang seharusnya cukup untuk menghibur, malah terasa kurang karena standar dopamin otak yang berubah.

Semua yang kuceritakan berasal dari sudut pandangku, kalau ada yang salah aku minta maaf dan mohon koreksinya. Meski begitu, ini semua bukan salah siapa-siapa, tapi salahku sendiri karena mau terjebak pada algoritma yang memang didesain untuk memanjakan penggunanya agar berlama-lama di platform mereka, mereka tak peduli mau otakku membusuk, asal mereka mendapatkan uang dari apa yang kulakukan di platform mereka. Selalu ingat, “jika ada produk yang gratis, dirimulah yang menjadi produknya.”

Rokhiq · · Bacotan
This work is licensed under CC BY-NC-SA 4.0